23/05/16

Gini Ratio Indonesia Menurun : Pemerataan Kekayaan atau Pemerataan Kemiskinan?



 Edukasi Kependudukan : Meninjau fenomena kependudukan Indonesia dalam bingkai SDGs

Selamat Datang di era SDGs! Tak banyak masyarakat tahu mengenai’updating’  tujuan pembangunan global dari MDGs menjadi SDGs. Millenium Development Goals (MDGS) adalah sebuah tujuan pembangunan millennium yang dirumuskan pada Agustus 2001 dan ditargetkan akan terlakasana secara keseluruhan pada tahun 2015 dengan 8 tujuan utama, yakni menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar universal, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV / AIDS, malaria dan lainnya, memastikan kelestarian lingkungan hidup dan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Berdasarkan definisi dari United Nation Development Program, SDGs merupakan singkatan dari Sustainable Development Goals. (www.undp.org)

“The Sustainable Development Goals, otherwise known as the Global Goal, build on the Millennium Development Goals (MDGs), eight anti-poverty targets that the world committed to achieving by 2015. The MDGs, adopted in 2000, aimed at an array of issues that included slashing poverty, hunger, disease, gender inequality, and access to water and sanitation. The new SDGs, and the broader sustainability agenda, go much further than the MDGs, addressing the root causes of poverty and the universal need for development that works for all people.” (Post-2015 Development Agenda, www.undp.org)


SDGs yang digagas untuk melanjutkan MDGs memiliki jangka  waktu yang sama dengan MDGS yakni 15 tahun sehingga SDGs dapat pula disebut sebagai 2030 Agenda of Sustainable Develpoment. SDGs sebagai perluasan dari MDGs memiliki 17 tujuan global dengan 169 target yang antara lain mencakup pemberantasan kemiskinan, pemberatasn ketidaksetaraan dan ketidakadilan, kesehatan, pendidikan, energi, pertumbuhan ekonomi serta penanggulangan terhadap perubahan iklim. 

Sumber : Berita Resmi Statistik No. 37/04/Th. XIX, 18 April 2016
Kemiskinan masih menjadi tujuan pertama dari 17 tujuan global untuk masa 15 tahun ke depan. Isu yang tak kunjung usai ini selalu dapat menarik perhatian publik dan menjadi isu sentral dalam membahas fenomena kependudukan yang berkaitan dengan ekonomi suatu negara. Indonesia  belum lama ini memasuki fenomena baru dalam fenomena kependudukan-ekonomi ini. Tiga tahun mengalami stagnansi gini ratio, akhirnya pada September 2015 terjadi penurunan angka gini ratio senilai 0,01. (finance.detik.com/read/2016/04/18/134914/3190479/4/bps-pengeluaran-orang-kaya-ri-turun-orang-miskin-naik)

18 April 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka koefisien gini Indonesia yang menjadi sejarah baru dalam fenomena ketimpangan pendapatan di Indonesia. Koefisien Gini Indonesia TURUN senilai 0,01 per September 2015. Padahal, koefisien gini Indonesia tidak pernah turun sejak Maret 2012 yaitu senilia 0, 41. Gini Ratio merupakan ukuran pemerataan pendapatan yang di hitung berdasarkan kelas pendapatan. Berdasarkan Sistem Rujukan Statistik Badan Pusat Statistik Indonesia, koefisien gini didasarkan pada kurva lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variabel tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Gini ratio yang berkitan erat dengan pendapatan, otomatis terkait pula dengan kemiskinan.

Sayangnya, Gini ratio yang menjadi kabar baik begitu sangat kontradiktif dengan fenomena kemiskinan di Indonesia. Ketimpangan yang menurun ditandai oleh koefisien gini yang menurun tidak berjalan beriiringan dengan kemiskinan. Kemiskinan di Indonesia malah semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan tidak hanya oleh tingkat kemiskinan, tetapi juga indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan. Data kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Sattistik menunjukkan tingkat kemiskinan per September 2015 tercatat sebesar 11,13% atau naik dibandingkan September 2014 yaitu 10,96%. Indikator kemiskinan kedua adalah Indeks Kedalaman Kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan. Indikator ketiga adalah Indeks Keparahan Kemiskinan) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Nilai indeks juga ini meningkat dari periode Maret dan September 2014 senilai masing-masing 1,75 menjadi senilai 1,97dan 1,84 pada Maret dan September 2015.

Anomali yang terjadi di Indonesia tak hanya terjadi pada periode akhir-akhir ini, koefisien gini yang tetap malah beriringan tingkat kemiskinan yang menurun. Pada periode Maret 2012 hingga Maret 2015, tingkat kemiskinan menunjukkan tren penurunan, sementara gini ratio tidak mengalami penurunan, yaitu tetap pada level 0,41. Dikutip dari finance.detik.com, Kepala Badan Pusat Statistik, Dr. Suryamin menyatakan pengeluaran kelompok berpendapatan tinggi menurun sedangkan pengeluaran kelompok berpendapatan rendah meningkat. Sebanyak 20% masyarakat Indonesia yang termasuk dalam kelompok berpenghasilan tinggi mengalami penurunan pengeluaran, dari 48,25% pada September 2015 menjadi 47,84% pada Maret 2015, terhadap pengeluaran penduduk per kapita. Kemudian masyarakat berpengeluaran rendah yang sebanyak 40% masyarakat Indonesia tercatat naik 0,35%, dari 17,41% menjadi 17,45%. Sementara masyarakat berpengeluaran menengah naik 0,05%, dari 34,65% menjadi 34,7%. (bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1122 dan bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1119)

Turunnya gini ratio senilai 0,01 memang merupakan indikasi baik untuk penurunan ketimpangan, namun perlu diwaspadai lebih jauh karena angka ini msih berada pada zona ketimpangan menengah. Hal ini masih memerlukan perhatian yang besar dari pemerintah karena pemerataan penurunan gini ratio tidak terjadi di seluruh provinsi Indonesia terutama saat gini ratio berada pada stagnan.  Badan Pusat Statistik merilis pada periode Maret 2012–Maret 2015 beberapa provinsi (antara lain. Papua Barat, NTB, Sulbar, Kalteng, dan Sumsel) menunjukkan kenaikan gini ratio. Sementara itu, beberapa provinsi yakni Sumbar, Lampung, dan Kaltim menunjukkan penurunan gini ratio.

Melihat adanya penurunan ketimpangan di tengah-tengah peningkatan indikator kemiskinan lain seharusnya dapat menimbulkan sikap kritis dalam masyarakat. Ketimpangan yang menurun dapat juga diartikan bahwa pemerataan terjadi lebih baik daripada periode sebelumnya. Ketimpangan memang menurun sehingga pemerataan meningkat, tetapi indikator kemiskinan malah ikut meningkat sehingga menimbulkan pertanyaan lain :

“Pemerataan Kekayaan atau Pemerataan Kemiskinan kah yang terjadi di Indonesia?”

Pengeluaran sebagai proksi pendapatan dapat berbicara banyak mengenai hal ini. Pengeluaran penduduk pada tingkat teratas yang menurun menunjukka penurunan dalam penghasilan. Hal ini dapat memiliki arti bahwa penduduk teratas perekonomian ini terindikasi berhemat akibat penghasilan yang berangsur turun.  Pengeluaran penduduk terbawah perekonomian yang meningkat memang baik, namun perlu ada tinjauan yang lebih serius. Tingkat kemiskinan yang meningkat menunjukkan semakin banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Lalu indeks kedalaman kemiskinan yang meningkat adalah bukti bahwa penduduk terbawah ini semakin terperosok dalam pada jurang kemiskinan. Akhirnya, pada indikator ketiga yaitu indeks keparahan kemiskinan yang meningkat semakin memperparah yang terjadi pada penduduk di lingkaran kemiskinan ini. Pendapatan yang meningkat sebgaai indikasi peaningkatan gini ratio HANYA dinikmati sebagian saja penduduk miskin. Ketimpangan secara keseluruhan memang menurun, namun ketimpangan antara penduduk miskin malah semakin parah. Hal ini diilustrasikan bahwa suatu kelompok masyarakata miskin memang semakin tinggi memanjat tebing jurang kemiskinan untuk keluar, namun sebagian yang lain malah menggali jurang menajdi lebih dalam.

Pemerintah sebaiknya bersikap waspada terhadap fenomena ini. SDGs mengamanahkan untuk ‘mengakhiri’ kemiskinan dan kesetaraan apapun dalam segala bidang, bukan hanya menurunkan ‘ketidaksetaraan’ di tengah kemiskinan yang makin meningkat. Masyarakat terutama generasi muda sebaiknya sadar dan kritis terhadap fenomena ini sehingga dapat menjadi kajian sebagai saran dari pemerintah. Penelitian-penelitian mengenai kemiskinan selanjutnya sebaiknya tidak menggunakan variabel gini ratio untuk menggambarkan kemiskinan dan ketimpangan karena kekurang sensitifan variabel ini untuk memotret fenomena yang ada.

Jika pendapatan penduduk teratas menurun lalu indikator kemiskinan milik penduduk terbawah meningkat, dapatkah hal ini diartikan sebagai PEMERATAAN KEMISKINAN?

DAFTAR PUSTAKA

Berita Resmi Statistik No. 37/04/Th. XIX, 18 April 2016
Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium di Indonesia Tahun 2014
Tabel Indeks Kedalaman dan Tabel Indeks Keparahan Kemiskinan dalam bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1122 dan bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1119 diakses 5 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar